Selasa, 27 Maret 2012

JATI DIRI ARSITEKTUR ISLAM


         Apa yang membuat kita teringat akan Bali? Mungkin yang paling terasa, manakala melihat bangunan Pura dengan atap Merunya yang bersusun-susun dan sangat khas itu. Dan barangkali pula kita akan dengan mudah mengatakan “…inilah Bali”, begitu melihat bangunan pura tersebut berada di suatu lingkungan pedesaan dengan sawah-sawahnya yang hijau berundak, sementara gunung-gunung lamat-lamat tampil sebagai latar belakang.
Memang paduan antara Pura, desa, sawah serta gunung mudah menggiring imajinasi kita akan sebuah tempat yuang dikenali sebagai Bali. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa fenomena-fenomena utama yang terdapat di tempat tersebut (baik itu fenomena binaan atau alami) bersama-sama telah menciptakan suatu totalitas tertentu yang kemudian kita persepsikan sebagai Bali.
Di dalam produk Arsitektur Islam, fenomena tersebut juga dijumpai di banyak tempat di Indonesia seperti, kota Kudus dengan Menaranya dan lingkungan perkampungan yang familier, Masjid Demak dengan Atap joglo, soko guru dari tatal, dan alun-alunnya, dan lain sebagainya. Namun persoalannya akan berbeda jika salah satu fenomena tadi misalnya saja bangunan pura sebagai pertanda paling kuat tentang Bali dipindahkan ke lain tempat, tak ada desa dengan sawah-sawahnya yang khas dan juga deretan gunung-gunung seperti layaknya di Bali, barangkali serta merta kita akan menolak untuk mengatakan tempat tersebut sebagai Bali lagi (karena di Lombok juga terdapat Pura seperti yang ada di Bali), walaupun fenomena fisik yang dianggap sebagai penanda paling kuat identitas tempat telah kita sertakan, pada kenyataannya tetap tak cukup kuat untuk menciptakan totalitas keadaan seperti di tempat semula, sehingga persepsi yang dihasilkanpun menjadi berbeda pula.
Kemudian kita bandingkan bagaimana penampilan kota-kota besar kita dewasa ini, semakin dirasakan, bahwa tidak ada bedanya kita berada di Jakarta, Surabaya, maupun kota-kota lainnya, karena yang kita dapatkan adalah wajah yang serba sama di mana-mana, gedung kaca bertingkat, jalan layang, jembatan penyebrangan dan sebagainya. Citra yang tunggal rupa telah membedakan dan mengikis habis jati diri atau identitas kota-kota tersebut.
Dari perumpamaan di atas, semangat tempat (The Spirit of the place) pada dasarnya merupakan sintesa antara fenomena alami dan binaan yang khas dan bersifat lokal, inilah yang akan meninggalkan kenangan akan tempat itu pada pikiran kita, ia pula yang membedakan Bali, Jakarta ataupun Kudus dalam pengertian yang paling hakiki.
Sebenarnya kesadaran akan kebutuhan jati diri karya Arsitektur sudah lama dicetuskan, tepatnya tahun 1976 dalam konggres Arsitek di Inggris, ketika untuk pertama kalinya Prof. Henryk Skolimowski mencetuskan “Bentuk Mengikuti Budaya” yang menggugurkan kaidah perancangan arsitektur modern “Bentuk mengikuti Fungsi”. Dari sini muncullah serangkaian gerakan baru yang lazim disebut Arsitektur Pasca Modern dan mulailah para arsitek berlomba-lomba menengok kembali struktur, bentuk dan genius loci (budaya setempat), untuk digali esensinya dan diejawantahkan dengan makna dan citra yang baru.
Adalah ironis ketika Bangunan dan Karya Arsitektur di Negara kita yang sebagian penduduknya beragama Islam hanya mendasarkan pada metoda Arsitektur Modern yang hanya melahirkan “The Box yang menjamur di kota-kota besar kita, sedangkan kajian atau bahasan terhadap Arsitektur Islam jarang dilakukan, padahal dalam konsep Arsitektur tradisional dikatakan bahwa “Sebuah bangunan merupakan wadah hidup bagi kehidupan manusia yang bulat, utuh, selamat sejahtera di dunia dan akhirat. Bangunan adalah jasad hidup yang memberi pengaruh baik (perubahan tingkah laku) pada manusia yang tinggal di dalamnya.
Sehingga agar kita tidak kehilangan aspek religi pada Bangunan dan Karya Arsitektur di negara kita, kajian terhadap Arsitektur Islam sangatlah diperlukan. Setidaknya ada 3 faktor yang menurut penulis harus ada di dalam jati diri Arsitektur Islam yaitu Aspek Religius, Genius Loci dan Arsitektur Islam harus dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap perilaku manusia.

A.     ASPEK RELEGIUS

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah bahwa Arsitektur lokal tradisional yang tersebar di Nusantara tercinta ini cenderung relegius, relegius di sini tentu saja diartikan sebagai sikap yang taat terhadap Penciptanya, bahkan banyak Arsitektur lokal tradisional yang justru berangkat dari ajaran agamanya. Sehingga aspek relegius yang harus ada di dalam Arsitektur Islam tentunya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi, masalahnya Islam tidak mendefinisikan secara jelas tentang bagaimana Arsitektur Islam, maka tidaklah mudah untuk menggali dari Al-Qur’an dan Sunah tentang Arsitektur Islam.
Menurut Ir. Budi Adelar Sukada, Grad, Hons, Dipl (AA) IAI, definisi dari Arsitektur Islam adalah merupakan Bangunan dan Karya Arsitektur yang dibuat untuk masyarakat Islam, atau dipakai mereka atau dimiliki mereka, terlepas dari apapun fungsinya sebelum itu dan arsiteknya.
Dalam Sejarah Islam, Arsitektur Islam yang pertama kali dibangun adalah Masjid Quba’, yaitu ketika pada hari senin 8 Rabi’ul awal tahun 1 Hijriah, Nabi Muhammad tiba di Quba’, sebuah tempat kira-kira 10 km jauhnya dari Yatsrib, selama 4 hari beristirahat Nabi mendirikan Masjid, inilah Masjid yang pertama kali didirikan dalam Sejarah Islam.
Di dalam Masjid itulah Nabi Muhammad menyatukan umat dan menyusun kekuatan mereka lahir batin, untuk membina masyarakat Islam dan Daulah Islamiyah berlandaskan semangat Tauhid.
Tentang aspek Religius pada Arsitektur Islam secara umum diungkapkan di dalam Al Qur’an Surat At-Taubah ayat 108 disebutkan:

“……………, sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar Taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang yang ingin membersihkan diri dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”.

Dari hal tersebut di atas, Islam tidaklah memberi batasan atau definisi yang tegas mengenai aspek fisik (being reality) dalam produk arsitekturnya, tetapi memberi batasan yang tegas tentang aspek makna (meaning reality). Sehingga kalau kita melihat hasil karya arsitektur yang dibangun oleh Wali Songo ternyata memiliki keanekaragaman bentuk yang disesuaikan dengan budaya setempat (local genius), dengan tidak meniru mentah mentah Bangunan Masjid yang ada di pusat-pusat Kebudayaan Islam Dunia.
Salah satu contoh Arsitektur yang berangkat dari Ajaran Agama Islam adalah Arsitektur Tanean Lanjang sebuah pola perumahan tradisional di Madura.
Pola rumah tunggal yang disebut tanean itu terdiri dari tanean (halaman, pertanian) kemudian di sebelah barat arah ke Qiblat terdapat bangunan langgar, di sebelah utaranya terdapat rumah tongguk (rumah induk) di sebelah selatannya terdapat dapur, kandang dan atau tanpa lumbung. Seluruh konsepsi, langgar, kamar mandi dan orientasinya didasarkan pada ajaran Hablum minallah, pola sirkulasi dan zoning untuk lelaki dan perempuan sesuai dengan norma mahrom serta disediakannya ruang luar bersama yang merupakan common space atau ruang bersama merupakan cerminan ajaran Hablum minannasi.





B.     LOKAL GENIUS

Lokal Genius dapat diartikan sebagai segala unsur (yang dimiliki oleh lokalitas ataupun budaya setempat) sedemikian rupa sehingga penyebutan unsur-unsur setempat dengan istilah genius menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut mempunyai kekuatan atau ketahanan tertentu, yang hanya dimiliki olehnya.
Kedudukan local genius di dalam mekanisme pengekspresian Identitas Arsitektur Islam ini berada pada tempat yang sentral, sebab ia merupakan kekuatan yang mampu bertahan serta menyeleksi unsur-unsur luar yang datang serta mengakomodasikan menjadi kekayaan bagi budaya setempat. Local genius sekaligus berperan dalam memberi warna serta karakter pada wujud ekspresi suatu produk Arsitektur Islam. Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas Quaritch Wales seorang Arkeolog menyimpulkan bahwa penerimaan pengaruh kebudayaan-kebudayaan Asia Tenggara dapat dibedakan dalam dua cara. Yang pertama Extreme Acculturation, yaitu penerimaan kebudayaan luar secara mentah-mentah, yang pada gilirannya akan memusnahkan bentuk-bentuk budaya lokal, dan yang kedua adalah Less Extreme Acculturation melalui akulturasi semacam ini pengaruh budaya pendatang diterima dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan perkayaan budaya setempat, keadaan tersebut dapat berlangsung karena adanya lokal genius yang dimiliki oleh budaya setempat.
Kalau kita amati ternyata produk-produk Arsitektur Islam Tradisional di Indonesia secara nyata telah mampu mengintegrasikan ajaran Agama Islam dengan Budaya Setempat (lokal genius), seperti pada bangunan Menara Kudus, Masjid Demak, Rumah Tradisional Madura seperti telah diterangkan di atas.


C.     ARSITEKTUR ISLAM DAN PERUBAHAN TINGKAH LAKU MANUSIA

Setiap individu akan bertingkah laku sesuai dengan lingkungan yang ada di sekelilingnya, baik lingkungan fisik (rumah, masjid, sekolah, pasar, dan lain-lain) ataupun lingkungan sosial.
Dua orang di dalam suatu lingkungan fisik dan sosial yang sama akan mungkin berbeda pada tingkah laku mereka, karena masing-masing mempunyai keinginan dan referensi yang berbeda terhadap kedua lingkungan tersebut. Tinggi rendah atau banyak sedikitnya keinginan seseorang akan dipengaruhi oleh pengalaman (experience) yang dimiliki oleh orang itu sendiri, jika keinginan itu tidak terpenuhi maka akan terbentuklah suatu sikap/ perasaan ketidakpuasan yang mana hal itu akan sangat berpengaruh terhadap pola tingkah laku orang tersebut. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:



Sangat disayangkan bahwa perancangan lingkunngan terutama pemukiman tidak memperhatikan pada pola tingkah laku, sehingga perumahan yang ada tidak mampu menjaga dan memelihara rumahnya dengan baik sehingga tidak terjadi interaksi yang saling menguntungkan baik bagi si manusia  maupun rumah itu sendiri, hal tersebut kemudian diiringi dengan kondisi lingkungan yang semakin memburuk, diikutin ketegangan perasaan, dan perubahan tingkah laku yang tanpa terasa telah melunturkan sendi-sendi Agama, Sosial dan kemasyarakatan.
Arsitektur Islam haruslah dapat berperan dalam membentuk dan merubah tingkah laku manusia sehingga sesuai dengan ajaran Agama Islam, walaupun disadari bahwa peranan tersebut tidaklah mutlak, karena pola tingkah laku yang terjadi adalah hasil interaksi (hubungan timbal balik) antara masalah fisik, ekonomi, sosial dan budaya.
Bagaimana Arsitektur Islam Tradisional telah dapat melakukan hal tersebut di atas dapat dijelaskan dalam sketsa berikut.



D.     PENUTUP

Barangkali dari pembahasan tersebut di atas, ada hal penting yang terlewat dari pengertian kita tentang Arsitektur selama ini. Sebagian dari kita masih menganggap bahwa Arsitektur merupakan tujuan, padahal bertolak pembahasan di atas ada tujuan yang lebih dalam dibanding sekedar Wujud Arsitektur, tujuan tersebut adalah menciptakan tempat (making) atau panggung dimana nilai-nilai religi, budaya kita terakomodasi dan terekspresi.
Arsitektur Islam diharapkan dapat menghadirkan itu semua, sehingga dapat merubah wajah Arsitektur saat ini yang telah kehilangan identitas.

0 komentar

Posting Komentar